BOX’S FROM HEAVEN
Author : Binces
Note : ini hanya cerita fiksi, murni dari otak sendiri^^/ Aku
paling suka cerita dengan latar Korea, jadi ceritanya ini orang Korea yaahh
#maksa
Happy reading
And the story begin …
Kira-kira, sudah keberapa kalinya yah aku melewati jalan
ini?? Sepertinya kalau di sebut angkanya, sudah keseribu kali. Selalu melewati
jalan ini, dan batu beton yang tertanam itu pasti sudah hapal wangi sepatuku.
Hari ini genap 17 tahun aku hadir di sebuah mimpi kenyataan
kedua orang tuaku. 17 tahun yang lalu dan sekarang, tak ada yang berubah dari
tempat ini. Tapi aku mengerti sekali apa arti kata berubah itu.
Mendadak ayahku meninggal, disusul ibuku. Apa menurut mereka
cukup satu tahun itu mengajariku arti kehidupan? Keduanya meninggal karena
penyakit, mau apalagi, tak ada yang bisa kusalahkan.
Sang mentari pun tetaplah matahari. Sang rembulan tak lain adalah
bulan. Kenapa hanya aku yang berubah? Kenapa hanya aku yang ditinggalkan?
Pagi menjemputku untuk menghadapi kenyataan. Akupun tak
ingin hidup di dalam mimpi. Seindah apapun mimpi itu, kenyataan selalu
menghantuiku.
Mataku terbuka. Tetap saja sehitam mimpiku. Enggan menarik
tirai besar di samping tempat tidur untuk menghadirkan terang, ataupun
menyalakan lampu. Biarlah, aku menikmati kegelapan ini.
Dengan menyeret kaki, aku berjalan menuju kamar mandi untuk
bersiap-siap. Ada sebuah tempat yang harus selalu kukunjungi. Sekolah namanya,
tempat yang mengajarkan murid-muridnya sesuatu yang berguna. Tapi tempat itu
begitu terang, aku tak sanggup menatapnya…
Setelah selesai mengenakan seragam musim panas, aku menatap
pantulan diriku di atas kaca. Lekungan hitam di bawah mata ini begitu
mengganggu, aku memang mengalami syndrome susah tidur.
Tubuhku berputar, dalam pandangan lurus aku sudah dapat
menemukan persegi panjang bercat coklat yang akan membawaku ke dunia luar sana.
Hanya butuh sekitar 8 langkah untuk menggapai kenop pintu, rumahku memang versi
mungil. Lagipula, hanya ada aku yang menjadi penunggunya.
Aku mendorong kenop itu, sekelibat cahaya menyerbu pupil
mataku. Tanganku kutaruh diatas dahi, menghela cahaya itu datang. Setelah
mengunci rumah, aku mulai menapaki jalan yang biasa aku lewati.
DUK!
Sepertinya kakiku menendang sesuatu. Sebuah kotak dengan
lapisan kertas coklat sudah berpindah tempat yang asalnya berada di depan pagar
rumahku. Apa itu kiriman buatku yah??
Aku menghampiri box coklat tersebut. Dengan berjongkok mulai
meneliti kotak tersebut. Tak ada sedikitpun identitas yang tertera.
Kugoyang-goyangkan kotak itu menerka isinya. Sedikit berat juga.
Dengan rasa penasaran, perlahan kusobek kertas yang
membungkus dan membuka isinya. Di dalam kotak, ada sebuah kotak cantik dengan
hiasan manic manic yang berkilau. Aku mengeluarkannya dengan hati-hati, ada
kunci dan gembok yang tergantung di depannya. Aku memasukkan kunci tersebut dan
gemboknya terbuka. Bentuknya seperti kotak harta karun, aku membukanya dan
mendapatkan berbagai peralatan berhias yang cantik dan manis, ada beberapa
tingkat dengan aksesoris yang berbeda, lalu di bagian dasarnya ada sebuah dress
berbahan lembut berwarna lavender. Mulutku menganga lebar, sebenarnya aku
sendiri bukan tipe yang suka berias diri, tapi melihat teman-temanku sepertinya
menyenangkan. Tapi yang terpenting, siapa yang memberikan ini??
Perhatianku kembali ke dalam kotak, mungkin ada yang
tersisa, dan benar. Sepucuk surat dengan gambar liontin yang sepertinya pernah
kulihat sebelumnya. Aku tak terlalu menghiraukannya, kubuka surat tersebut.
Tulisan bersambung yang indah, rasanya aku hapal. Aku membaca surat tersebut
dan ternganga. Perlahan air mata menetes, rasanya semua pertanyaan yang pernah
kuajukan pada diriku sendiri menyeruak dan terjawab oleh surat ini. Seperti ada
yang memelukku sekarang ini. Entah karena matahari yang memang menyinariku kala
itu, tapi rasa hangat yang sangat melegakan.
Aku baru mengetahuinya, hari ulang tahunku sesungguhnya. Aku
baru merasakannya, kesenangan berlebih saat seseorang mengucapkan tentang hal
sepele ini. Harapan pertamaku seumur hidup, aku baru menemukannya.
Ketika kau mendapatkan
kotak ini ada di depan rumah, eomma dan appa hanya ingin kau yang membukanya.
Tentu saja, ini hadiahmu. Selamat ulang tahun ke 17 anak eomma dan appa tersayang.
Nikmatilah hidupmu, eomma dan appa selalu melihatmu dari surga sana. Kau sudah
besar sekarang, walau tanpa eomma dan appa kau harus makan yang banyak untuk
bisa lebih besar. Belajar yang benar supaya bisa jadi orang besar. Carilah
banyak teman agar namamu jadi besar. Anak eomma dan appa haruslah besaarr~
Aku terkekeh dalam tangisku. Terputar rekaman saat aku masih
satu tahun, satu satunya kenangan yang sulit untuk tidak di lupakan, karena
hanya satu. Mereka selalu tertawa, mereka selalu bergembira, padahal mereka tak
pernah mengajariku tentang kesedihan, tapi selama ini aku nyaman bersama
kegelapan. Disekolah aku selalu menarik diriku, aku selalu merasa tak pantas
untuk bersama mereka, padahal mereka semua sebenarnya selalu ada untukku.
Selama ini aku tak menghargai hidupku, selalu memuntahkan kembali makanan yang
masuk, tubuhku tak lebih dari tiang listrik di depanku. Selama ini aku selalu
mengutuk kegembiraan, padahal sebenarnya aku membutuhkan hal itu.
Hiduplah seperti
anak-anak normal lainnya. Berharaplah dan bermimpilah, tak akan ada yang menyalahkannya.
Eomma appa, jeongmal mianhaeyo. Aku selalu menyalahkan
kalian, aku selalu membenci hidupku. Sesungguhnya aku sangat ingin hidup.
Seharusnya aku menikmati hidupku. Tapi aku yang sekarang tak mau hidup dalam
kesia-siaan dan keputus asaan. Tak ada lagi pertanyaan dan beban, tak ada lagi
keluhan dan penyesalan, aku akan menikmatinya, sisa hidupku ini. Aku akan
seperti teman-temanku yang cantik di sekolah, aku akan datang ke acara pesta
kelulusan dengan gaun ini. Aku tak akan menghindari tatapan mereka, aku akan
mendapatkan nomer telepon mereka. Aku akan punya pacar dan menikah lalu
mempunyai anak dan menceritakan eomma dan appa pada mereka. Akan terkabulkan
atau tidak yang penting aku punya mimpi, tujuan, dan harapan.
Aku akan menjadi besar. Aku janji. Aku akan malu bertemu
dengan eomma dan appa nanti kalau aku masih seperti ini. Tak ada kata terlambat
untuk berubah, sejam itu sudah cukup lama dan bisa diisi dengan banyak
perbuatan besar. Walau waktuku sebentar lagi, aku akan memanfaatkannya dengan
baik. Seperti eomma dan appa yang sampai akhir selalu bergembira, aku juga mau
seperti itu. Aku bangga jadi anak eomma dan appa, aku berterima kasih sudah
dilahirkan ke dunia ini. Terimakasih sudah mau menjadi orang tuaku. Terimakasih
memberikan genetic sehingga aku seperti kalian, bahkan menjadi penderita AIDS
juga, aku sangatlah berterimakasih.
Hanya karena satu kardus dari surga ini, aku benar-benar di
sadarkan. Mulai hari ini, aku akan jadi besar eomma appa. Jeongmal saranghaeyo.
==the end==
Kamus :
Eomma : ibu
Appa : ayah
Jeongmal saranghaeyo : sangat mencintaimu
Jeongmal mianhaeyo : minta maaf sebesarnya
Hanya ingin kasih motivasi, life is never flat, detik detik
berikutnya dari hidupmu tergantung dari apa yang kau lakukan di detik sekarang
ini, akan menyenangkankah Atau tidak, yang penting hargai setiap waktumu,
jadikan lebih berguna.
“Sejam itu sudahlah cukup lama untuk berubah, tapi setahun,
dua tahun, ataupun 5 tahun, itu waktu yang sebentar untuk umur manusia.”
KOMEN CING LARIS, BUDAYAKAN COMMENT YUU KAWAN^^/




























.jpg)



















