Minggu, 15 April 2012

box from heaven


BOX’S FROM HEAVEN


Author : Binces
Note : ini hanya cerita fiksi, murni dari otak sendiri^^/ Aku paling suka cerita dengan latar Korea, jadi ceritanya ini orang Korea yaahh #maksa

Happy reading

And the story begin …

Kira-kira, sudah keberapa kalinya yah aku melewati jalan ini?? Sepertinya kalau di sebut angkanya, sudah keseribu kali. Selalu melewati jalan ini, dan batu beton yang tertanam itu pasti sudah hapal wangi sepatuku.
Hari ini genap 17 tahun aku hadir di sebuah mimpi kenyataan kedua orang tuaku. 17 tahun yang lalu dan sekarang, tak ada yang berubah dari tempat ini. Tapi aku mengerti sekali apa arti kata berubah itu.
Mendadak ayahku meninggal, disusul ibuku. Apa menurut mereka cukup satu tahun itu mengajariku arti kehidupan? Keduanya meninggal karena penyakit, mau apalagi, tak ada yang bisa kusalahkan.
Sang mentari pun tetaplah matahari. Sang rembulan tak lain adalah bulan. Kenapa hanya aku yang berubah? Kenapa hanya aku yang ditinggalkan?
Pagi menjemputku untuk menghadapi kenyataan. Akupun tak ingin hidup di dalam mimpi. Seindah apapun mimpi itu, kenyataan selalu menghantuiku.
Mataku terbuka. Tetap saja sehitam mimpiku. Enggan menarik tirai besar di samping tempat tidur untuk menghadirkan terang, ataupun menyalakan lampu. Biarlah, aku menikmati kegelapan ini.
Dengan menyeret kaki, aku berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Ada sebuah tempat yang harus selalu kukunjungi. Sekolah namanya, tempat yang mengajarkan murid-muridnya sesuatu yang berguna. Tapi tempat itu begitu terang, aku tak sanggup menatapnya…
Setelah selesai mengenakan seragam musim panas, aku menatap pantulan diriku di atas kaca. Lekungan hitam di bawah mata ini begitu mengganggu, aku memang mengalami syndrome susah tidur.
Tubuhku berputar, dalam pandangan lurus aku sudah dapat menemukan persegi panjang bercat coklat yang akan membawaku ke dunia luar sana. Hanya butuh sekitar 8 langkah untuk menggapai kenop pintu, rumahku memang versi mungil. Lagipula, hanya ada aku yang menjadi penunggunya.
Aku mendorong kenop itu, sekelibat cahaya menyerbu pupil mataku. Tanganku kutaruh diatas dahi, menghela cahaya itu datang. Setelah mengunci rumah, aku mulai menapaki jalan yang biasa aku lewati.
DUK!
Sepertinya kakiku menendang sesuatu. Sebuah kotak dengan lapisan kertas coklat sudah berpindah tempat yang asalnya berada di depan pagar rumahku. Apa itu kiriman buatku yah??
Aku menghampiri box coklat tersebut. Dengan berjongkok mulai meneliti kotak tersebut. Tak ada sedikitpun identitas yang tertera. Kugoyang-goyangkan kotak itu menerka isinya. Sedikit berat juga.
Dengan rasa penasaran, perlahan kusobek kertas yang membungkus dan membuka isinya. Di dalam kotak, ada sebuah kotak cantik dengan hiasan manic manic yang berkilau. Aku mengeluarkannya dengan hati-hati, ada kunci dan gembok yang tergantung di depannya. Aku memasukkan kunci tersebut dan gemboknya terbuka. Bentuknya seperti kotak harta karun, aku membukanya dan mendapatkan berbagai peralatan berhias yang cantik dan manis, ada beberapa tingkat dengan aksesoris yang berbeda, lalu di bagian dasarnya ada sebuah dress berbahan lembut berwarna lavender. Mulutku menganga lebar, sebenarnya aku sendiri bukan tipe yang suka berias diri, tapi melihat teman-temanku sepertinya menyenangkan. Tapi yang terpenting, siapa yang memberikan ini??
Perhatianku kembali ke dalam kotak, mungkin ada yang tersisa, dan benar. Sepucuk surat dengan gambar liontin yang sepertinya pernah kulihat sebelumnya. Aku tak terlalu menghiraukannya, kubuka surat tersebut. Tulisan bersambung yang indah, rasanya aku hapal. Aku membaca surat tersebut dan ternganga. Perlahan air mata menetes, rasanya semua pertanyaan yang pernah kuajukan pada diriku sendiri menyeruak dan terjawab oleh surat ini. Seperti ada yang memelukku sekarang ini. Entah karena matahari yang memang menyinariku kala itu, tapi rasa hangat yang sangat melegakan.
Aku baru mengetahuinya, hari ulang tahunku sesungguhnya. Aku baru merasakannya, kesenangan berlebih saat seseorang mengucapkan tentang hal sepele ini. Harapan pertamaku seumur hidup, aku baru menemukannya.
Ketika kau mendapatkan kotak ini ada di depan rumah, eomma dan appa hanya ingin kau yang membukanya. Tentu saja, ini hadiahmu. Selamat ulang tahun ke 17 anak eomma dan appa tersayang. Nikmatilah hidupmu, eomma dan appa selalu melihatmu dari surga sana. Kau sudah besar sekarang, walau tanpa eomma dan appa kau harus makan yang banyak untuk bisa lebih besar. Belajar yang benar supaya bisa jadi orang besar. Carilah banyak teman agar namamu jadi besar. Anak eomma dan appa haruslah besaarr~
Aku terkekeh dalam tangisku. Terputar rekaman saat aku masih satu tahun, satu satunya kenangan yang sulit untuk tidak di lupakan, karena hanya satu. Mereka selalu tertawa, mereka selalu bergembira, padahal mereka tak pernah mengajariku tentang kesedihan, tapi selama ini aku nyaman bersama kegelapan. Disekolah aku selalu menarik diriku, aku selalu merasa tak pantas untuk bersama mereka, padahal mereka semua sebenarnya selalu ada untukku. Selama ini aku tak menghargai hidupku, selalu memuntahkan kembali makanan yang masuk, tubuhku tak lebih dari tiang listrik di depanku. Selama ini aku selalu mengutuk kegembiraan, padahal sebenarnya aku membutuhkan hal itu.
Hiduplah seperti anak-anak normal lainnya. Berharaplah dan bermimpilah, tak akan ada yang menyalahkannya.
Eomma appa, jeongmal mianhaeyo. Aku selalu menyalahkan kalian, aku selalu membenci hidupku. Sesungguhnya aku sangat ingin hidup. Seharusnya aku menikmati hidupku. Tapi aku yang sekarang tak mau hidup dalam kesia-siaan dan keputus asaan. Tak ada lagi pertanyaan dan beban, tak ada lagi keluhan dan penyesalan, aku akan menikmatinya, sisa hidupku ini. Aku akan seperti teman-temanku yang cantik di sekolah, aku akan datang ke acara pesta kelulusan dengan gaun ini. Aku tak akan menghindari tatapan mereka, aku akan mendapatkan nomer telepon mereka. Aku akan punya pacar dan menikah lalu mempunyai anak dan menceritakan eomma dan appa pada mereka. Akan terkabulkan atau tidak yang penting aku punya mimpi, tujuan, dan harapan.
Aku akan menjadi besar. Aku janji. Aku akan malu bertemu dengan eomma dan appa nanti kalau aku masih seperti ini. Tak ada kata terlambat untuk berubah, sejam itu sudah cukup lama dan bisa diisi dengan banyak perbuatan besar. Walau waktuku sebentar lagi, aku akan memanfaatkannya dengan baik. Seperti eomma dan appa yang sampai akhir selalu bergembira, aku juga mau seperti itu. Aku bangga jadi anak eomma dan appa, aku berterima kasih sudah dilahirkan ke dunia ini. Terimakasih sudah mau menjadi orang tuaku. Terimakasih memberikan genetic sehingga aku seperti kalian, bahkan menjadi penderita AIDS juga, aku sangatlah berterimakasih.
Hanya karena satu kardus dari surga ini, aku benar-benar di sadarkan. Mulai hari ini, aku akan jadi besar eomma appa. Jeongmal saranghaeyo.
==the end==
Kamus :
Eomma : ibu
Appa : ayah
Jeongmal saranghaeyo : sangat mencintaimu
Jeongmal mianhaeyo : minta maaf sebesarnya

Hanya ingin kasih motivasi, life is never flat, detik detik berikutnya dari hidupmu tergantung dari apa yang kau lakukan di detik sekarang ini, akan menyenangkankah Atau tidak, yang penting hargai setiap waktumu, jadikan lebih berguna.

“Sejam itu sudahlah cukup lama untuk berubah, tapi setahun, dua tahun, ataupun 5 tahun, itu waktu yang sebentar untuk umur manusia.”

KOMEN CING LARIS, BUDAYAKAN COMMENT YUU KAWAN^^/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar