Hari demi hari, minggu yang berlalu, berbulan-bulan yang
kutunggu. Setiap detik, menit, jam kunikmati, setiap udara yang kuhirup, setiap
makanan yang kulahap. Kamu siapa yang sudah menjadikan hari-hariku berwarna…
PLUK! Sebuah pukulan sukses mendarat di atas kepalaku
membuyarkan lamunanku tentangnya.
“Ya! Ren-ah! Appo!” keluhku pada sipelaku. Wajah cantik
tertangkap ketika ku menoleh. Dia, yang bernama Ren itu dengan wajah flatnya
tengah mencari tahu apa yang sedari tadi mencuri perhatianku.
“Cih, siang bolong gini mimpi.” Cibirnya mengetahui apa yang
sedang kulakukan sedari tadi. Kami sedang menikmati cemilan di kala istirahat.
Ren tengah berkeluh untuk yang kesekian kalinya dia di anggap yeoja oleh
seseorang yang baru ditemuinya. Itu bukan cerita luar biasa lagi karena terlalu
sering terjadi, jadi aku lebih memilih mengamati “seseorang”.
“Hah~ Ren-ah dia benar-benar seperti pangeran…” ucapku
seraya menghembuskan nafas ketenangan ketika menatap wajahnya-walau dari jauh-
“Teruslah bermimpi, entah kapan kau akan terbangun, juga
bagaimana…” keluh Ren yang ikut bosan akan kebiasaanku ini.
Dia, seniorku. Pria yang jauh di sana yang tengah berkumpul
dengan teman-temannya itu di depan kelas eklusif. Rambutnya merah mencolok,
benar-benar menarik perhatian. Kulit wajahnya putih menyala dengan bibir tipis
berwarna pink yang suka di gigitnya. Beating lips yang menggemaskan. Dia
seniorku yang langsung memekarkan bunga-bunga di hati ini pada hari pertama aku
bersekolah.
“Bahkan namanya saja kau tidak tau…” Ren lagi-lagi mengusik
hayalanku. Aku balas menatap tajam kearahnya.
“Tapi benarkan?”jawab Ren menganggkat bahu. Tatapanku
berubah menjadi ingin menangis. Benar, benar sekali… Tapi, aku menggeleng
cepat.
“Gwaencanayo, meski aku tak tau namanya, meski aku cuman
bisa mencuri-curi pandang darinya, itu sudah cukup.” Tegasku kukuh.
Ren menatapku dengan raut tak percaya. Itu membuatku menjadi
kikuk, lebih baik aku memerhatikan pangeran itu saja.
“Kau orang paling aneh Hyunie-ah~” Ren membuka mulut. Aku
malas bertatapan dengannya.
“Tak mungkin, seseorang yang menyukai tapi tidak ingin
memiliki…” lanjut Ren menyenderkan diri ke tembok. Aku sedikit acuh tak acuh
dengan perkataannya.
“Aku sering dengar dari orang kok, cinta itu tak harus
memiliki.” Jawabku asal karena aku sendiri belum pernah berpacaran.
“Itu kalau kau sudah berusaha.” Ren dengan santainya
menjawab, tapi rasanya bagai serangan sejuta jarum menyerangku. Tubuhku kaku.
“Suatu hari kau harus menghadapi kenyataan Hyunnie-ah~” aku
sedikit meng”iya”kan ucapannya dalam hati.
“Karena dalam mimpi kau tak bisa melakukan apapun, tapi di
kenyataan sesuatu apapun itu bisa terjadi.” Lanjut Ren. Aku tau itu perkataan
positif untuk mengoptimiskan diri. Ucapan Ren memang selalu benar dan masuk
logika. Sebagai seorang teman yang pertama di sekolah menengah ini, aku selalu
mendengar perkataannya. Karena aku yang sedikit tertutup dan lebih suka
menghayal. Tanpa sengaja, aku takut akan kenyataan. Tapi Ren, dia manusia yang
selalu menghiburku bahwa kenyataan tak begitu menakutkan. Aku tau, karena tak
mungkin tak ada alas an dibalik tingkahku ini.
Aku diam sejenak, kelut pikiranku sepertinya tergambar di
atas mimik. Entah kenapa kesuraman datang bagai tsunami.
Ren menatapku, kembali heran. Tapi bel tanda istirahat
selesai berbunyi. Arus balik mulai muncul. Tapi aku masih dalam keheninganku.
“Apa aku mengatakan hal yang salah??” gumam Ren berbisik
pada dirinya sendiri tapi terdengar olehku.
“Aniyo” gelengku dengan senyum kecut.
“Gwaenchana~” tawaku terdengar terpaksa, benar-benar acting
gagal. Ren mengamatiku kasian.
“Sudahlah, ayo masuk.” Ajakku menarik lengan baju Ren sambil
berjalan.
“Hyunnie-ah~” Ren memanggil namaku. Aku menoleh tanpa suara.
Ren mendekatkan bibirnya di daun telingaku.
“Jinyoung~ Namanya adalah Jinyoung…”bisik Ren kemudian pergi
menjauh menuju bangkunya. Aku membeku sebentar, suara Ren yang membertahukan
nama pangeran itu terulang dan terulang. Otakku penuh dengan namanya dan hatiku
bergejolak mendengar namanya. Sungguh, aku telah jatuh cinta.
==
JINYOUNG POV
“Jadi persamaan berikut bisa diturunkan menjadi blahblehblohlalala(?)”
Dengan tak sengaja tanganku menulis atas rumus-rumus yang
tertera di papan tulis tersebut. Penjelasan pria tua yang sebenarnya berisik
itu mau tak mau aku dengarkan.
CIH!
Untuk apa aku melakukan semua ini? Entah apa itu akar,
bilangan kuadrat, turunan, invers… Sesuatu yang tak di perlukan untuk
menaklukkan dunia. Ya! Aku ini pangeran! Siapa kamu yang begitu cerewet dan
mengapa harus aku dengar?!
“Maaf mengganggu songsaengnim, saya ada perlu dengan Jinyoung.”
Suatu suara berat yang kuhapal itu memotong pembicaraan pria bawel tersebut.
Aku terkikik pelan ketika wajah songsaengnim hampir saja memuncratkan amarah
tetapi ternyata orang itu adalah kepala sekolah kami.
“Boleh saja pak, silahkan.” Balasnya kikuk. Dengan tatapan
mata yang mengisyaratkan aku harus mengikuti pria dengan embel embel jabatan
kepsek itu, aku bangkit dari bangku dan mengikutinya.
Kelas sudah jauh berlalu, di balik pintu itu adalah ruangan
khusus kepala sekolah. Aku tak harus tegang karena dia tak mungkin bisa
menghukumku.
“Ada apa memanggilku??” tanyaku merebahkan diri diatas sofa,
sedangkan dia duduk di meja kantornya.
“Setahun ini sudah berapa kali kau tidak masuk kelas?”
tanyanya mengambil kertas data. Aku bergidik bahu.
“Bukannya kau serba tau” jawabku acuh.
“My prince…” panggilnya tetap sibuk dengan data-data
tersebut.
“Haa~ Aku rindu panggilan itu.” Seruku menerawang.
Aku ini adalah seorang pangeran. Silahkan tertawa atas
bualan aneh ini. Tidak, ini benar. Pangeran Jinyoung dari negeri BANA. Negeri
BANA adalah negeri yang penuh akan cinta, jantung kami adalah mutiara. Setiap
mutiara memiliki warna yang berbeda berdasarkan sifat. Semakin indah warnanya
menandakan banyak cinta yang dimilikinya. Tapi orang yang kehilangan mutiaranya
akan dibuang.
#hening
#udahbuntu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar