Selasa, 26 Juni 2012

draft b1a4 fanfict


Hari demi hari, minggu yang berlalu, berbulan-bulan yang kutunggu. Setiap detik, menit, jam kunikmati, setiap udara yang kuhirup, setiap makanan yang kulahap. Kamu siapa yang sudah menjadikan hari-hariku berwarna…
PLUK! Sebuah pukulan sukses mendarat di atas kepalaku membuyarkan lamunanku tentangnya.
“Ya! Ren-ah! Appo!” keluhku pada sipelaku. Wajah cantik tertangkap ketika ku menoleh. Dia, yang bernama Ren itu dengan wajah flatnya tengah mencari tahu apa yang sedari tadi mencuri perhatianku.
“Cih, siang bolong gini mimpi.” Cibirnya mengetahui apa yang sedang kulakukan sedari tadi. Kami sedang menikmati cemilan di kala istirahat. Ren tengah berkeluh untuk yang kesekian kalinya dia di anggap yeoja oleh seseorang yang baru ditemuinya. Itu bukan cerita luar biasa lagi karena terlalu sering terjadi, jadi aku lebih memilih mengamati “seseorang”.
“Hah~ Ren-ah dia benar-benar seperti pangeran…” ucapku seraya menghembuskan nafas ketenangan ketika menatap wajahnya-walau dari jauh-
“Teruslah bermimpi, entah kapan kau akan terbangun, juga bagaimana…” keluh Ren yang ikut bosan akan kebiasaanku ini.
Dia, seniorku. Pria yang jauh di sana yang tengah berkumpul dengan teman-temannya itu di depan kelas eklusif. Rambutnya merah mencolok, benar-benar menarik perhatian. Kulit wajahnya putih menyala dengan bibir tipis berwarna pink yang suka di gigitnya. Beating lips yang menggemaskan. Dia seniorku yang langsung memekarkan bunga-bunga di hati ini pada hari pertama aku bersekolah.
“Bahkan namanya saja kau tidak tau…” Ren lagi-lagi mengusik hayalanku. Aku balas menatap tajam kearahnya.
“Tapi benarkan?”jawab Ren menganggkat bahu. Tatapanku berubah menjadi ingin menangis. Benar, benar sekali… Tapi, aku menggeleng cepat.
“Gwaencanayo, meski aku tak tau namanya, meski aku cuman bisa mencuri-curi pandang darinya, itu sudah cukup.” Tegasku kukuh.
Ren menatapku dengan raut tak percaya. Itu membuatku menjadi kikuk, lebih baik aku memerhatikan pangeran itu saja.
“Kau orang paling aneh Hyunie-ah~” Ren membuka mulut. Aku malas bertatapan dengannya.
“Tak mungkin, seseorang yang menyukai tapi tidak ingin memiliki…” lanjut Ren menyenderkan diri ke tembok. Aku sedikit acuh tak acuh dengan perkataannya.
“Aku sering dengar dari orang kok, cinta itu tak harus memiliki.” Jawabku asal karena aku sendiri belum pernah berpacaran.
“Itu kalau kau sudah berusaha.” Ren dengan santainya menjawab, tapi rasanya bagai serangan sejuta jarum menyerangku. Tubuhku kaku.
“Suatu hari kau harus menghadapi kenyataan Hyunnie-ah~” aku sedikit meng”iya”kan ucapannya dalam hati.
“Karena dalam mimpi kau tak bisa melakukan apapun, tapi di kenyataan sesuatu apapun itu bisa terjadi.” Lanjut Ren. Aku tau itu perkataan positif untuk mengoptimiskan diri. Ucapan Ren memang selalu benar dan masuk logika. Sebagai seorang teman yang pertama di sekolah menengah ini, aku selalu mendengar perkataannya. Karena aku yang sedikit tertutup dan lebih suka menghayal. Tanpa sengaja, aku takut akan kenyataan. Tapi Ren, dia manusia yang selalu menghiburku bahwa kenyataan tak begitu menakutkan. Aku tau, karena tak mungkin tak ada alas an dibalik tingkahku ini.
Aku diam sejenak, kelut pikiranku sepertinya tergambar di atas mimik. Entah kenapa kesuraman datang bagai tsunami.
Ren menatapku, kembali heran. Tapi bel tanda istirahat selesai berbunyi. Arus balik mulai muncul. Tapi aku masih dalam keheninganku.
“Apa aku mengatakan hal yang salah??” gumam Ren berbisik pada dirinya sendiri tapi terdengar olehku.
“Aniyo” gelengku dengan senyum kecut.
“Gwaenchana~” tawaku terdengar terpaksa, benar-benar acting gagal. Ren mengamatiku kasian.
“Sudahlah, ayo masuk.” Ajakku menarik lengan baju Ren sambil berjalan.
“Hyunnie-ah~” Ren memanggil namaku. Aku menoleh tanpa suara. Ren mendekatkan bibirnya di daun telingaku.
“Jinyoung~ Namanya adalah Jinyoung…”bisik Ren kemudian pergi menjauh menuju bangkunya. Aku membeku sebentar, suara Ren yang membertahukan nama pangeran itu terulang dan terulang. Otakku penuh dengan namanya dan hatiku bergejolak mendengar namanya. Sungguh, aku telah jatuh cinta.
==
JINYOUNG POV
“Jadi persamaan berikut bisa diturunkan menjadi blahblehblohlalala(?)”
Dengan tak sengaja tanganku menulis atas rumus-rumus yang tertera di papan tulis tersebut. Penjelasan pria tua yang sebenarnya berisik itu mau tak mau aku dengarkan.
CIH!
Untuk apa aku melakukan semua ini? Entah apa itu akar, bilangan kuadrat, turunan, invers… Sesuatu yang tak di perlukan untuk menaklukkan dunia. Ya! Aku ini pangeran! Siapa kamu yang begitu cerewet dan mengapa harus aku dengar?!
“Maaf mengganggu songsaengnim, saya ada perlu dengan Jinyoung.” Suatu suara berat yang kuhapal itu memotong pembicaraan pria bawel tersebut. Aku terkikik pelan ketika wajah songsaengnim hampir saja memuncratkan amarah tetapi ternyata orang itu adalah kepala sekolah kami.
“Boleh saja pak, silahkan.” Balasnya kikuk. Dengan tatapan mata yang mengisyaratkan aku harus mengikuti pria dengan embel embel jabatan kepsek itu, aku bangkit dari bangku dan mengikutinya.
Kelas sudah jauh berlalu, di balik pintu itu adalah ruangan khusus kepala sekolah. Aku tak harus tegang karena dia tak mungkin bisa menghukumku.
“Ada apa memanggilku??” tanyaku merebahkan diri diatas sofa, sedangkan dia duduk di meja kantornya.
“Setahun ini sudah berapa kali kau tidak masuk kelas?” tanyanya mengambil kertas data. Aku bergidik bahu.
“Bukannya kau serba tau” jawabku acuh.
“My prince…” panggilnya tetap sibuk dengan data-data tersebut.
“Haa~ Aku rindu panggilan itu.” Seruku menerawang.
Aku ini adalah seorang pangeran. Silahkan tertawa atas bualan aneh ini. Tidak, ini benar. Pangeran Jinyoung dari negeri BANA. Negeri BANA adalah negeri yang penuh akan cinta, jantung kami adalah mutiara. Setiap mutiara memiliki warna yang berbeda berdasarkan sifat. Semakin indah warnanya menandakan banyak cinta yang dimilikinya. Tapi orang yang kehilangan mutiaranya akan dibuang.

#hening
#udahbuntu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar